Resep Jitu Untuk Memiliki Tabungan : Mulailah Segera

“Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.”  Anda pernah dengar kalimat tersebut? Ya, ini juga berlaku untuk membuat tabungan..

Anda mungkin baru saja mempelajari cara-cara merencanakan keuangan, atau Anda baru saja mengikuti pelatihan, seminar atau talkshow tentang perencanaan keuangan. Biasanya Anda akan menyadari betapa Anda harus segera memiliki tabungan dengan jumlah yang cukup besar. Sebagian besar dari kita tidak bisa melakukan ini. dan Anda rasanya akan menyerah melihat kondisi keuangan Anda.

Nah, inilah gunanya perencanaan keuangan. Perencanaan keuangan merupakan alat yang tersedia bagi orang yang sulit memiliki tabungan, orang-orang yang benar-benar membutuhkan bantuan. Jadi perencanaan keuangan bukan hanya alat yang dapat dipakai oleh  orang-orang  yang telah memiliki banyak kekayaan dan bagaimana memaksimalkan kekayan yang telah dimiliki tersebut.

Mungkin kita berpikir bahwa jika hanya dapat menabung sebesar Rp. 50,000.- rupiah perbulan itu tak ada artinya dan  tidak layak. Hal itu sepenuhnya tidak benar! Begitu anda dapat menyimpan Rp. 50,000,- dan menyadari bahwa Anda masih baik-baik saja, tak ada masalah dengan angka tersebut, maka  Anda akan sadar bahwa Anda bisa menyimpan lebih banyak. Mungkin bulan berikutnya Anda mampu meningkatkan simpanan anda dengan Rp. 100,000.- jumlah itu akan menjadi Rp. 1,2 juta dalam setahun.

Atau katakanlah hanya setengahnya yang berhasil Anda simpan, maka jumlahnya sudah Rp. 600,000 pertahun. Menyadari hanya sedikit yang mampu Anda simpan, akan menginspirasi Anda, untuk lebih banyak menyimpan dimasa depan. Sisi positif dari melakukan hal ini adalah Anda memiliki kebiasaan menabung. Anda akan berusaha untuk menyisihkan lebih banyak uang kedalam tabungan, mengurangi pengeluaran Anda, sehingga tabungan Anda akan tumbuh dan berkembang seiring dengan kenaikan gaji, bonus atau pendapatan lainnya.

Berikut adalah beberapa tips untuk menghemat lebih banyak dengan langkah kecil :

  1. Bayar diri Anda terlebih dahulu.Kalimat ini memang amat populer didunia perencana keuangan. Hanya saja mungkin Anda sulit mewujudkannya? Anda berpikir, masih begitu banyak tagihan yang belum dibayar, bagaimana mungkin menabung lebih dulu?

Bagaimana kalau dengan cara ini : Setiap Anda membayar tagihan, lebihkan sedikit uang untuk Anda simpan dalam dompet/amplop khusus? Misalnya sebesar Rp. 5,000 setiap tagihan. Jumlahnya begitu kecil tapi kalau tagihan yang harus anda bayar ada 10 maka simpanan Anda sudah menjadi Rp. 50,000. Jika menyisihkan uang dengan cara ini berhasil Anda lakukan, tingkatkan jumlahnya misalnya menjadi Rp. 10,000 per tagihan, tak terasa Anda akan mampu menyisihkan uang yang cukup banyak perbulannya.

  1. Periksalah, apakah ada kebiasaan sehari-hari yang bisa dihemat, misalnya Anda selalu sarapan diluar rumah, cobalah untuk melakukannya dirumah untuk lebih menghemat uang. Jika bekerja disuatu kantor, Anda bisa membawa bekal makan siang dari rumah, misalnya seminggu sekali. Sehingga pada hari itu Anda bisa menyisihkan uang untuk disimpan.

Satu hal yang paling penting adalah membangun kebiasaan yaitu membuat diri Anda biasa menabung, dan tidak meremehkan jumlah tabungan yang hanya sedikit. Ingatlah selalu bahwa untuk memulai perjalanan panjang adalah melakukan langkah, pertama.

Sumber : http://bit.ly/1ZZErNx

Kolaborasi

kolaborasiTulisan ini saya dedikasikan buat teman saya yang tiba-tiba menghilang dari peredaran “our circle”. Tanpa menghakimi apa penyebabnya, tetapi saya pasti merasa kehilangan karena awalnya kami bertiga   punya cita-cita yang sama untuk mencapai mencapai sesuatu.

Saya sering menganjurkan pada mahasiswa dikelas saya untuk melakukan kolaborasi antar teman, karena saya suka “lelah” melihat pola persaingan yang super tajam didunia nyata, bahkan kebanyakan orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Padahal, tujuan itu bisa dicapai bersama-sama, dengan cara yang lebih manusiawi, tanpa harus mengorbankan teman, karena Islam menganjurkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan (QS. Al Maidah  ayat 2).

Saya katakan pada mahasiswa saya bahwa kalaupun seluruh kelas memiliki nilai terbaik, yaitu A dalam dunia belajar adalah diperbolehkan, dan dimungkinkan. Berbeda dengan dunia kerja yang tidak memungkinkan hal tersebut, karena hanya satu yang akan dipilih menjadi CEO, atau General manager, atau Direktur keuangan misalnya, maka pola persaingan itu pasti ada karena hanya ada satu posisi. Tetapi ketika menjadi pelajar saling bantu atau kolaborasia adalah pola terbaik, untuk bisa mendapatkan ilmu dalam cara yang secepat-cepatnya di dalam koridor yang benar.

 

  1. Degan kolaborasi kita tidak perlu mencoba asumsi yang kita punya. Kita memang perlu pengalaman untuk mengkayakan pemikiran kita tapi kita gak perlu melewati nya dengan berdarah-darah karena bisa belajar dari pengalaman teman kolaborasi kita
  2. Kadang kita merasa apa yang kita percayai sangat powerful, dan seringkali itu yang menjadikan hambatan dalam diri kita untuk bergerak maju, tetapi dengan teman kolaborasi yang kita percayai, maka kita menjadi mampu berpikir ulang apakah yang percayai tentang sesuatu itu benar adanya, teman kolaborasi kita bisa membukakan pikiran kita.
  3. Kita tak pernah tahu sebenarnya hasil yang akan kita peroleh, dan kadangkala ini yang membuat kita sedikit bingung. Teman kolaborasi akan mengarahkan kita untuk fokus pada apa yang kita inginkan, karena dia ada untuk satu tujuan yang sama, dan bagaimana meraih yang kita cita-citakan tersebut
  4. Teman kolaborasi akan menunjukkan apa yang kadang kita abaikan, padahal itu harus diperhatikan, yang bahkan bisa jadi penyebab masalah besar bagi pencapaian tujuan kita.
  5. Mereka mempercayai. Adalah manusiawi jika kita masuk pada kondisi tidak lagi percaya diri akan bisa melakukan sesuatu yang kita dambakan. Teman kolaborasi akan terus mempercayai bahwa kita mampu dan mendorong kita kearah yang tepat untuk lebih cepat meraih tujuan.
  6. Kumpulan kebijakan, nasehat “sok tau” dari teman kolaborasi kadang menjadi pemecah masalah yang ampuh saat kita frustasi, saat tak ada kemajuan didiri kita, atau saat penghalang (mental block) yang besar ada dihadapan kita.

Jadi, mari kita berkolaborasi, mumpung masih disuasana dan lingkungan dimana kolaborasi itu sangat dimungkinkan. Sekali kita memasuki dunia kerja kembali, maka berjuta hambatan ada disana yang menghalangi kita untuk berkolaborasi, karena semua hanya mau kompetisi, yang bahkan bisa menghancurkan kita. Namun jika dunia entrepreneur adalah bidang Anda, kolaborasi ini sangat dimungkinkan, kenapa tidak mencobanya?

Shinta Rahmani

 

 

 

PEREMPUAN PEKERJA PERSIAP DANA PENSIUN ANDA (BAG.2)

Perempuan Pekerja Persiap Dana Pensiun Anda (bag.2)

Inilah yang harus dipersiapkan untuk merencanakan dana pensiun anda

  1. Mengestimasi pendapatan yang akan diperoleh saat pensiun, termasuk pensiun dari pemerintah, penghasilan pensiun dari tempat kerja, dari jamsostek dan sebagainya.
  2. Tentukan ingin pensiun seperti apa kelak, apakah pensiun dan pindah kedaerah dengan biaya hidup lebih rendah dan hidup sederhana, atau tetap mempertahankan gaya hidup saat ini. Asumsikan berapa biaya yang akan diperlukan kelak.
  3. Periksa riwayat keluarga, cari tahu berapa kira-kira harapan hidup keluarga.
  4. Selisih dari keduanya (1-2) adalah biaya yang kelak harus dipersiapkan selama kira-kira umur hidup pensiun, sesuai riwayat keluarga.

Setelah mengetahui perkiraan kebutuhan keuangan Anda dimasa pensiun atau dimasa tua, kini
saatnya untuk berinvestasi. Perempuan biasanya menghindari risiko saat berinvestasi. Tapi melalui pengetahuan yang cukup tentang investasi, segala risiko yang memang melekat pada setiap investasi dapat diantisipasi.

Berikutnya kita dapat mempelajari bagaimana meminimalkan risiko yang mampu ditanggung. makin besar risiko, makin besar hasil investasi yang diperoleh. Kunci utamanya cari pengetahuan tentang berbagai investasi, sehingga kepercayaan diri untuk menanggung risiko dan memperoleh hasil investasi yang lebih besar akan didapatkan.

Cara lain yang mungkin lebih praktis adalah berhubungan dengan penasehat keuangan independen. Kenyataannya karena perempuan kurang tahu berbagai produk investasi keuangan, akan lebih aman jika berhubungan dengan penasehat keuangan independen, Bukan penasehat keuangan yang terikat untuk menjual produk keuangan tertentu, seperti asuransi. Penasehat keuangan independen lebih obyektif dalam memberikan nasehat keuangan yang disesuaikan dengan profil kliennya, mereka juga akan memberikan masukan atas berbagai produk investasi keuangan tanpa memaksa klien membeli produk tertentu, karena dia tidak terikat pada satu perusahaan yang menjual produk investasi keuangan.

Perempuan pekerja memiliki kekuatan untuk menentukan bagaimana kehidupannya dimasa tua. Tanpa harus bergantung pada pihak lain, anak-anaknya atau keluarga lainnya. Kehidupan dimasa mendatang diperkirakan membuat anak-anak lebih sulit untuk mampu mengurus orang tuanya. Sehingga tak ada salahnya perempuan pekerja seperti anda mempersiapkan diri menghadapi kehidupan masa tua.

Perempuan pekerja disarankan mampu mengelola uangnya sendiri. Kemampuan mereka menghasilkan uang juga merupakan bentuk kekuatan yang lebih bersifat asertif terhadap menghasilkan uang juga merupakan bentuk kekuatan yang lebih bersifat asertif terhadap pengelolaan uangnya. Karena sesungguhnya tak ada yang lebih berkepentingan terhadap uang Anda kecuali Anda sendiri.

Sebagai penutup, meskipun dalam ajaran Islam, kerja adalah ibadah, sehingga sampai akhir hayatpun manusia tetap diwajibkan beribadah, namun perlu juga kita simak hadist berikut :

  • “Allah memberi rahmat kepada seseorang yang berusaha dengan baik, membelanjakan secara sederhana dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga saat dia miskin dan membutuhkannya” HR. Bukhari dan Muslim

Semangat mempersiapkan pensiun adalah meyisihkan sebagian harta untuk masa-masa dimana seseorang tak mampu lagi memiliki penghasilan serta membutuhkan harta. Sehingga menjaga diri kita dari menadahkan tangan, dari meminta-minta. Selesai

By Shinta Rahmani

Sumber : http://bit.ly/1lH5Dmc

Perempuan Pekerja Persiap Dana Pensiun Anda (Bag.1)

Jangan berfikir lebih baik mempersiapkan pensiun di usia tengah baya, apalagi bagi perempuan. Makin dini mempersiapkannya, makin sejahtera hidup anda kelak!

Sudahkah anda mempersiapkan dana pensiun anda?

Ini bukan pertanyaan aneh, bahkan jika anda adalah perempuan pekerja yang masih usia muda. Karena tak ada kata terlalu dini untuk mempersiapkan hari tua.

Kebanyakan perempuan muda tidak memikirkan pentingnya perencanaan keuangan untuk hari tuanya. Lebih buruk lagi jika mereka tak mau belajar berinvestasi. Perempuan tengah baya umumnya mengerti pentingnya jaminan keuangan untuk masa pensiun, tapi mereka terlambat bertindak karena kurangnya penghasilan, keterbatasan pengetahuan dan kurang percaya diri. Perempuan juga takut akan resiko dan menghindari investasi berisiko, yang umumnya akan berakhir dengan aset keuangan yang kecil.

Kim Kiyosaki penulis buku Rich woman dalam salah satu artikelnya mengungkapkan, ada beberapa alasan mengapa perempuan perlu memikirkan investasi atas namanya sendiri. Kebanyakan perempuan tergantung secara finansial kepada suami, orang tua atau pekerjaan. Sayangnya, tidak selamanya ketergantungan ini dapat dilakukan. Perceraian, suami kehilangan pekerjaan, kematian suami atau dipecat dari pekerjaannya membuat perempuan semakin kehilangan pegangan finansial. Tak sedikit pula perempuan pekerja yang terpaksa meninggalkan anaknya dirumah demi mendapatkan penghasilan. Padahal jika berinvestasi, mereka tetap dapat mengurus anak dirumah sekaligus mendapat penghasilan dari investasinya.

Penelitian membuktikan, Perempuan lebih memerlukan investasi dibanding laki-laki karena hal-hal berikut :

  • Perempuan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki. Data dari Kementrian Pemberdayaan Wanita menunjukkan bahwa di Indonesia rata-rata perempuan Indonesia memiliki harapan hidup 3 tahun lebih lama dibandingkan laki-laki. Artinya perempuan perlu menabung yang lebih banyak untuk membiayai masa pensiunnya.
  • Perempuan menabung lebih sedikit. mereka menabung kira-kira setengah dari tabungan rata-rata laki-laki.
  • Perempuan lamban memulai untuk menabung dibanding laki-laki, sehingga jangka waktu mereka untuk menabung lebih pendek.
  • Perempuan menghindari pengambilan keputusan untuk berinvestasi, banyak wanita takut untuk melakukan kesalahan investasi.
  • Hasil investasi perempuan lebih rendah dari laki-laki. Umumnya perempuan merupakan kelompok investor yang konservatif. Ini berarti mereka memperoleh hasil rendah karena memilih investasi yang ‘aman’. Hal ini tentunya akan merusak kemampuan mereka menghimpun dana untuk keperluan pensiunnya.

INI YANG DILAKUKAN PEREMPUAN PEKERJA SEPERTI ANDA!

Meski Uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang. Uang berperan penting untuk memenuhi segala keperluan dimasa tua. Memang masa tua belum ada saat ini, tapi masa itu pasti datang. Perempuan pekerja adalah kelompok yang memiliki kekuatan lebih besar untuk dapat menyiapkan masa tuanya. karena mereka memiliki kekuatan mengalokasikan uang yang dihasilkannya sendiri tanpa harus meminta persetujuan pihak lain. (bersambung)

By Shinta Rahmani

Sumber :  http://bit.ly/1jXnSC8

 

Memberi Dengan Hati

Satu hari saya disuguhi sebuah cerita yang tampaknya menyentuh hati, yaitu tentang seorang anak yang menghadiahkan sebuah smartphone untuk ayahnya. Smartphone itu diberikan untuk ayahnya dengan maksud agar mudah berkomunikasi melalui WA atau whatsapp dan mudah memesan taxi bila ingin bepergian menggunakan aplikasi yang bisa diunduh melaui smartphone tersebut. Sebelumnya sang ayah sudah menggunakan handphone yang bukan smartphone sehingga hanya bisa dipakai untuk sms dan menelpon saja.

Ketika smartphone sudah dibeli dan diberikan pada sang ayah, timbullah masalah, karena ayah tidak terbiasa mengetik dengan touchscreen. Kemudian agak sulit mengingat-ingat urutan cara menggunakan applikasi wa tersebut. Meskipun sang anak sudah mengajari ayah untuk menggunakannya, tetapi sungguh sulit mengingat-ingat penggunaan smartphone. Alhasil, beberapa kali sang anak mesti memandunya melalui telpon saat ayah akan menggunakan smartphone itu. Kemudian selama seminggu dua minggu hening tak ada berita yang diketik ayah di wa. Sang anak menelponnya menanyakan mengapa ayah tidak membalas sapaan dan berita yang dikirim lewat wa grup, mereka anak-anaknya jadi khawatir. Ayah menjawab bahwa dia lupa cara menggunakan wa. Agak susah mengingat sesuatu yang baru apalagi berhubungan dengan teknologi, maklumlah ayah usianya sudah hampir 80 tahun, tepatnya 79 tahun.

Saya jadi ingat almarhumah ibu saya yang sangat suka dengan telp jadulnya. Kakak saya membelikan handphone baru yang lebih canggih dan tentu lebih mahal waktu saya mengganti handphone ibu dengan jenis yang tidak jauh berbeda saat handphonenya rusak karena terjatuh. Senangnya bagi saya, ibu tetap setia menggunakan handphone pemberian saya yang harganya tidak mahal sampai akhir hidupnya. Satu saat adik saya bertanya pada ibu mengapa tidak menggunakan handphone dari kakak yang lebih canggih dan keren? kenapa pakai yang dari saya? apakah ibu lebih mencintai saya daripada kakak. Waktu itu ibu menjawab kalo handphone pemberian kakak memang bagus dan keren, tapi ibu tidak bisa menggunakannya, sudah mencoba beberapa kali tapi lupa terus. Kalau pakai handphone dari saya, ibu gak perlu belajar lagi karena mereknya sama dengan hpnya yang rusak, meskipun jenisnya berbeda. Ibu tidak suka mengetik untuk membuat sms. Kalo perlu mengubungi seseorang maka beliau menelpon. Pulsanya boros kan bu? kan repot beli-beli pulsa? tanya adikku. “Kalo pulsanya mau habis ibu telpon saja minta diisi pulsa sama anak-anak ibu gampang kan” Jawab beliau saat itu. Berapa sih kebutuhan pulsa orang tua? berapa banyak penggunaan hpnya dalam sebulan? Tidak banyak tentunya.

Kembali kepada cerita anak yang menghadiahkan smartpone untuk ayahnya, sekilas kita melihat anak yang ingin berbakti kepada orangtuanya, tapi benarkah demikian, tepatkah pemberian itu? Bukankah jika ayah kesulitan menggunakannya berarti bukan produk yang tepat yang dihadiahkan. Apakah sama merek yang dibeli dengan handphone miliknya yang terdahulu? karena merek yang sama biasanya cara menggunakannya juga tidak jauh berbeda. Bagaimana dengan jaringan internet di smartphone itu, apakah tetap tersambung dan memiliki sambungan yang baik setiap saat? Bisa jadi ayah sudah bisa mengingat cara menggunakan, tetapi saat jaringan internet tidak tersambung maka tidak akan berfungsi aplikasi yang digunakannya.

Ketika kita ingin berbakti pada orang tua, sebaiknya kita memikirkan kemudahan buat mereka. Berikanlah sesuatu dengan hati. Maksudnya jangan asal memberi, penuhi apa kebutuhan dan keinginannya. Orang tua adalah orang yang dulunya selalu memberikan yang terbaik buat kita, betapapun sulitnya akan diusahakannya. Ketika giliran kita mempunyai kesempatan untuk membalas jasanya, gunakan juga hati kita untuk memberikan yang terbaik buatnya. Misalnya, berilah HP yang ramah orang tua. Boleh saja Hp yang canggih tapi mudah penggunaannya. Lebih baik lagi jika kita menanyakan dan memperhatikan apa yang mereka butuhkan bukan apa yang kita butuhkan.

hp

Lho kok yang kita butuhkan?

Ya, karena ingin disebut anak yang memperhatikan orang tua maka kita memberi sesuatu seperti yang biasa kita gunakan, dengan kecanggihan dengan kehebatan, tapi belum tentu yang dibutuhkan atau yang diinginkannya. Jika ingin memudahkan orangtua maka permudahlah hidupnya bukan memperumit. Walahualam

By Shinta Rahmani

Sidik Jari

SIDIK JARI

by Sarlito Wirawan Sarwono

 

Setelah kasus Otak Tengah, yang akhir-akhir ini sering ditanyakan kepada saya adalah tentang Test Sidik Jari untuk mengetahui kepribadian anak. Saya sendiri yang sudah 43 tahun malang-melintang di dunia psikologi, belum pernah tahu sebelumnya tentang keberadaan test tersebut dan tidak mau ambil pusing. Paling-paling penipuan lagi, pikir saya.

Tetapi beberapa hari yang lalu, anak saya yang kebetulan juga psikolog, berceritera kepada saya bahwa dia diajak temannya (baca: dikejar-kejar) temannya untuk bergabung dengan usaha dia dalam usaha test Sidik Jari. Lumayan, kata temannya itu. Captive market-nya ibu-ibu yang punya anak kecil, dan sekolah-sekolah, dan biayanya Rp 500.000,-per anak.

Sebagai psikolog professional anak saya meragukan validitas dan reliabilitas (keabsahan dan kesahihan) test itu. Apalagi dengan job dan statusnya yang sudah mapan dan gajinya yang sudah berlipat-lipat di atas UMR, dia tidak mau ambil risiko, karena itu ia minta pendapat saya.

Saya langsung saja menyatakan bahwa saya pun tidak percaya, tetapi saya penasaran. Maka saya pun browsing semua jurnal Psikologi (hampir seluruh dunia yang berbahasa Inggris) yang bisa diakses oleh mesin searcher dari Asosiasi Psikologi Amerika (APA) dimana saya menjadi salah satu anggotanya.

Hasilnya menakjubkan, sekitar 40.000 tulisan yang mengandung kata “finger print”. Langsung saya cari judul-judul yang kira-kira terkait dengan sidik jari dalam hubungannya dengan bakat, kepribadian, atau kecerdasan anak. Hasilnya: NIHIL!

Sedangkan kalau saya gunakan kata kunci Dermatoglyphic (Dermato artinya kulit, Glyphs artinya ukiran, jadi kulit yang berukiran) ada satu keluaran, yaitu tulisan berjudul “Neurodevelopmental Interactions Conferring Risk for Schizophrenia: A Study of Dermatoglyphic Markers in Patients and Relatives”, oleh

Avila, Matthew T.; Sherr, Jay; Valentine, Leanne E.; Blaxton, Teresa A.; Thaker, Gunvant K. dalam Schizophrenia Bulletin, Vol 29(3), 2003, halaman 595-605. Jadi tulisan yang satu ini pun hanya tentang hubungan antara gejala sakit jiwa skhizoprenia (yang dipercaya merupakan penyakit turunan) dengan pola sidik jari (yang juga merupakan bawaan),

Sebaliknya, dari Google saya mendapat banyak sekali keluaran setelah memasukkan kata kunci “sidik jari”. Bahkan ada website-nya sendiri. Hampir semuanya berceritera tentang ke-ilmiahan metode analisis kepribadian dengan test Sidik Jari ini. Bahkan ada iklan promo yang menawarkan test Sidik jari “hanya” untuk Rp 375.000 per anak. Sisanya adalah testimoni dari orang-orang yang pernah mencoba test yang katanya pelaksanaannya sangat mudah. Sedangkan salah satu kalimat promosi mereka adalah bahwa “Analisa sidik jari memiliki tingkat akurasi lebih tinggi daripada metode pengukuran lain. Klaim akurasi 87%”.

Luar biasa kalau test itu benar. Kalau seorang ibu sudah mengetahui seluruh “rahasia” kepribadian anaknya melalui sidik jari anak, maka dia tinggal ongkang-ongkang kaki dan dia hanya perlu mengatur anaknya sesuai dengan petunjuk hasil test Sidik Jari, dan anaknya akan menjadi orang yang pandai, jujur, kreatif, berbakti pada orangtua, beriman, bertakwa, saleh/salehah. Lebih senang lagi anggota Densus88. Tidak perlu berpayah-payah lagi mereka. Cukup dengan memeriksa sidik jari, mereka bisa mengidentifikasi pembom bunuh diri menangkapnya dan memasukkannya ke penjara.

Tetapi faktanya kan tidak seperti itu. Upaya manusia untuk mempelajari jiwa sudah berawal sejak zaman Socrates, 400 thn sebelum Masehi, dan melalui perjalanan sejarah yang panjang sekali, serta mendapat masukan dari berbagai ilmu, termasuk ilmu faal dan kedokteran, serta matematika, Wilhelm Wundt baru menyatakan Psikologi sebagai Ilmu yang mandiri pada tahun 1879 di Leipzig, Jerman (versi Amerika oleh William James, di sekitar tahun yang sama di Universitas Harvard).

Pasca kelahirannya, Psikologi berkembang terus, termasuk mengupayakan berbagai teknik dan metode untuk mengukur berbagai aspek kepribadian, termasuk test IQ, minat, sikap, bakat, emosi dan seterusnya. Kemajuannya sangat langkah-demi-langkah, tidak ada yang langsung meloncat, dan sebagaimana ilmu pengetahuan lainnya, setiap kemajuan, temuan atau kritik selalu dilaporkan dalam jurnal-jurnal dan seminar-seminar psikologi seluruh dunia. Karena itulah maka langkah pertama saya adalah mengecek jurnal ilmiah Psikologi untuk memastikan apakah test Sidik Jari ini termasuk metode yang diakui dalam Psikologi atau tidak.

Di sisi lain, teknik analisis sidik jari juga sudah berembang sejak 1800an. Tahun 1880 Dr Henry Faulds melaporkan tentang sistem klasifikasi yang dibuatnya untuk mengidentifikasi seseorang. Tahun 1901 teknik yang disebut Daktiloskopi ini digunakan di Inggris, 1902 di Amerika digunakan di kalangan pegawai negeri, 1905 di Angkatan darat AS, dan sejak 1924 mulai dipakai oleh FBI. Tetapi semuanya adalah untuk menentukan identitas fisik seseorang. Misalnya, apakah benar sidik jari yang ditinggalkan pelaku di TKP (Tempat Kejadian Perkara) perampokan adalah milik si Fulan. Sebelum ditemukan system DNA, Daktiloskopi lah yang menjadi andalan Polisi.

Namun di kemudian hari, nampaknya teknik analisis Sidik Jari yang awalnya hanya untuk identifkasi fisik, berkembang menjadi teknik identifikasi psikis (kejiwaan) juga. Ilmuwan Inggris Sir Francis Galton yang masih sepupu Sir Charlis Darwin adalah penganut teori evolusi. Dia percaya bahwa kepribadian ditentukan oleh bakat-bakat yang dibawa sejak lahir dan bakat-bakat itu terukir di sidik jari srtiap orang. Maka ia menerbitkan buku “Finger prints” (1888) dan memperkenalkan klasifikasi sidik jari yang dihubungkan dengan klasifikasi kepribadian.

Pasca Galton, nampaknya Dermatoglyphs semakin berkembang dan diyakini sebagai ilmu pengetahuan yang sahih, lengkap dengan buku-buku dan jurnal-jurnal “ilmiah” mereka sendiri. Kalau kita cari di Google, dengan kata kunci Dermatoglyphs akan keluar lebih dari 70.000 informasi, tetapi semuanya di luar komunitas ilmu psikologi. Dengan demikian Dermatoglyphs sebenarnya adalah pseudo science (ilmu semu) dari psikologi.

Ilmu semu lain dalam psikologi yang banyak kita kenal adalah Astrologi (banyak di majalah-majalah wanita dan remaja, tetapi tidak pernah ada di Koran SINDO), Palmistri (ilmu rajah tangan, yang ketika saya mahasiswa sering saya pakai untuk merayu mahasiswi-mahasiswi Fakultas Sastra sambil meraba-raba tangannya), Numerologi (meramal atau menjodohkan orang dengan menggunakan angka-angka tanggal lahir dsb.), Tarrot (dengan menggunakan kartu-kartu) dan masih banyak lagi. Semua itu mengklaim diri sebagai ilmu, lengkap dengan literatur dan teknik masing-masing, dan memang nampaknya sahih dan canggih betul (ada yang putus dari pacar gara-gara bintangnya tidak cocok).

Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dipenuhi oleh semua ilmu semu, yaitu tidak bisa diverifikasi teorinya. Dalam Astrologi, misalnya, tidak pernah bisa dibuktikan hubungan antara singa yang galak, dengan bintang Leo. Apalagi membuktikan manusia berbintang Leo dengan sifatnya yang galak (banyak juga cewek Leo yang jinak-jinak merpati, loh!).

Dalam hal ilmu Sidik Jari, sama saja. Tidak bisa diverifikasi bagaimana hububnannya antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variable seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun juga termasuk sedikit faktor bawaan.

Pandangan bahwa kepribadian ditentukan oleh fator bawaan (nativisme) sudah lama ditinggalkan oleh Psikologi . Teori yang berlaku sekarang adalah bahwa kepribadian ditentukan oleh pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Karena itu untuk memeriksanya diperlukan proses yang panjang (metode psikodiagnostik, assessment) dan duit yang lumayan banyak.

Karena itu saya tidak pernah menyarankan orang untuk ikut psikotes kalau hanya untuk ingin tahu. Buang-buang duit. Tetapi lebih sia-sia lagi kalau buang duit untuk tes Sidik Jari.

Source : http://www.facebook.com/notes/sarlito-sarwono/sidik-jari/221271827899296